Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

TERAPI DENGAN MEMINTA MAAF


Sekitar tahun 2014 suatu hari menjelang sore hari aku dapat telpon daeri seorang therapys yang juga sahabatku. Ada kasus menarik menurutnya yang saya harus tahu dan saya harus hadir langsung. Setelah izin kepada pihak berwenang di tempat aku bekerja aku langsung meluncur ke Te Ka Pe.

Sesampainya di lokasi iapun bercerita, singkatnya ada anak kelas 1 SD yang bermasalah karena seringkali tiba-tiba marah dan memukuli teman sekelasnya baik yang lelaki maupun yang perempuan. Orang tua dalam kelas tersebut sepakat untuk menarik anak-anaknya jika anak tersebut tidak dikeluarkan karena kenyamanan anak-anak mereka terusik. Akhirnya therapy dilakukan oleh sahabatku sebagai langkah awal solusi dengan tenggang waktu 1-2 bulan.
Anak itupun mengikuti pelatihan kecerdasan emosi di tempat tersebut dan juga sesi hypnotherapy. Anehnya tidak ada hasil sama sekali padahal sudah melewati 4 sesi therapy. Dan saat sesi ke-5 berlangsung anak tersebut menangis mengeluarkan air mata dalam therapynya. Saat itu akhirnya sahabat saya memperjelas status hubungan antara bundanya dengan anak tersebut. Setelah didesak akhirnya bundanya mengakui jika anak tersebut bukanlah anak kandungnya melainkan anak adiknya yang terlahir tanpa seorang ayah (hamil di luar nikah). Ia ceritakan semua kejadiannya dan sahabatku meminta agar ibu kandungnya yang biasa dipanggil mama oleh anaknya untuk datang ke kantornya. Awalnya menolak dengan berbagai alasan namun setelah dijelaskan dengan gamblang  iapun menyanggupi. Sore semakin menjelang sampai adzan Isya berkumandang akhirnya ibu si anak tersebut baru keliatan batang hidungnya. Pertanyaanpun mulai dilayangkan kepadanya satu demi satu, hingga sampai pada pertanyaan “apa yang pernah mama lakukan terhadap anak ini?” … sambil menyeka air mata mamanya pun bercerita. Saat usia kandungan memasuki 7 bulan ia sempat merasa kerepotan dan memukul-mukul perutnya yang sudah tidak dapat disembunyikan lagi kehamilannya. Hal itu ia lakukan Karen malu, repot dan penyesalan yang mendalam dengan berkata “Gara-gara kamu aku jadi repot hidupnya”. Namun tanpa ia sadari ucapan dan perbuatannya berimbas di kemudian hari.

Setiap anak yang berada dalam kandungan memiliki indra intuisi yang biasanya saat ini indra tersebut disebut indra ke enam, padahal intuisi adalah indra pertama yang Allah anugrahkan kepada setiap insan. Rupanya hal itu terekam di dalam pikiran bawah sadar anak. Seusai bercerita sahabtku memperlihatkan anaknya yang masih dalam sesi therapy dalam kondisi gelombang alpha dan terus menangis mengeluarkan air mata. Methode yang diberikan sahabtku sangat mudah yaitu mamanya disuruh memeluk anaknya dan meminta maaf berkali –kali. Hal itu hampir setegah jam dilakukan mamanya dengan penuh kasih sayang. Selesai therapy mereka pamit pulang karena sudah larut malam. Esoknya perbedaan mulai terlihat pada diri anak tersebut, ceria, nyaman dan hapy. Setelah hampir sebulan setelah itu kabarnya anak tersebutpun semakin meningkat nilai akademisnya dan emosinya jauh lebih stabil.

Semoga bermanfaat


Sumber : Pengalaman Pribadi pemilik blog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar