Sekitar tahun 2014 suatu
hari menjelang sore hari aku dapat telpon daeri seorang therapys yang juga
sahabatku. Ada kasus menarik menurutnya yang saya harus tahu dan saya harus
hadir langsung. Setelah izin kepada pihak berwenang di tempat aku bekerja aku
langsung meluncur ke Te Ka Pe.
Sesampainya di lokasi
iapun bercerita, singkatnya ada anak kelas 1 SD yang bermasalah karena
seringkali tiba-tiba marah dan memukuli teman sekelasnya baik yang lelaki
maupun yang perempuan. Orang tua dalam kelas tersebut sepakat untuk menarik
anak-anaknya jika anak tersebut tidak dikeluarkan karena kenyamanan anak-anak
mereka terusik. Akhirnya therapy dilakukan oleh sahabatku sebagai langkah awal
solusi dengan tenggang waktu 1-2 bulan.
Anak itupun mengikuti
pelatihan kecerdasan emosi di tempat tersebut dan juga sesi hypnotherapy. Anehnya
tidak ada hasil sama sekali padahal sudah melewati 4 sesi therapy. Dan saat
sesi ke-5 berlangsung anak tersebut menangis mengeluarkan air mata dalam
therapynya. Saat itu akhirnya sahabat saya memperjelas status hubungan antara
bundanya dengan anak tersebut. Setelah didesak akhirnya bundanya mengakui jika
anak tersebut bukanlah anak kandungnya melainkan anak adiknya yang terlahir
tanpa seorang ayah (hamil di luar nikah). Ia ceritakan semua kejadiannya dan
sahabatku meminta agar ibu kandungnya yang biasa dipanggil mama oleh anaknya
untuk datang ke kantornya. Awalnya menolak dengan berbagai alasan namun setelah
dijelaskan dengan gamblang iapun
menyanggupi. Sore semakin menjelang sampai adzan Isya berkumandang akhirnya ibu
si anak tersebut baru keliatan batang hidungnya. Pertanyaanpun mulai
dilayangkan kepadanya satu demi satu, hingga sampai pada pertanyaan “apa
yang pernah mama lakukan terhadap anak ini?” … sambil menyeka air mata
mamanya pun bercerita. Saat usia kandungan memasuki 7 bulan ia sempat merasa
kerepotan dan memukul-mukul perutnya yang sudah tidak dapat disembunyikan lagi
kehamilannya. Hal itu ia lakukan Karen malu, repot dan penyesalan yang mendalam
dengan berkata “Gara-gara kamu aku jadi repot hidupnya”. Namun tanpa ia
sadari ucapan dan perbuatannya berimbas di kemudian hari.
Setiap anak yang berada dalam kandungan memiliki
indra intuisi yang biasanya saat ini indra tersebut disebut indra ke enam,
padahal intuisi adalah indra pertama yang Allah anugrahkan kepada setiap insan.
Rupanya hal itu terekam di dalam pikiran bawah sadar anak. Seusai bercerita
sahabtku memperlihatkan anaknya yang masih dalam sesi therapy dalam kondisi
gelombang alpha dan terus menangis mengeluarkan air mata. Methode yang
diberikan sahabtku sangat mudah yaitu mamanya disuruh memeluk anaknya dan
meminta maaf berkali –kali. Hal itu hampir setegah jam dilakukan mamanya dengan
penuh kasih sayang. Selesai therapy mereka pamit pulang karena sudah larut
malam. Esoknya perbedaan mulai terlihat pada diri anak tersebut, ceria, nyaman
dan hapy. Setelah hampir sebulan setelah itu kabarnya anak tersebutpun semakin
meningkat nilai akademisnya dan emosinya jauh lebih stabil.
Semoga bermanfaat
Sumber : Pengalaman
Pribadi pemilik blog
Tidak ada komentar:
Posting Komentar